Tutup Kawasan Hutan, 14 Petani di Humbahas Ditangkap

Ilustrasi

Illustrasi

MEDAN – Puluhan petani kemenyan (ekaliptus) di Desa Pandumaan dan Sipituhuta, Kecamatan Polung, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas), Sumatera Utara, kembali terlibat bentrok dengan karyawan PT Toba Pulp Lestari (TPL).

Bentrokan terjadi karena puluhan warga keberatan lahan hutan kemenyan yang mereka anggap sebagai hak ulayat dimasuki karyawan perusahaan, yang hendak melakukan penebangan. Sebanyak 14 petani ditangkap petugas Brimob dalam bentrokan tersebut.

Berdasarkan informasi, bentrok bermula saat puluhan petani memblokir jalan menuju hutan ekaliptus. Langkah itu diambil berdasarkan kesepakatan petani, TPL, kontraktor, Kapolres Humbang Hasundutan, serta Camat Polung, pada 20 Februari 2013, yang menetapkan area itu sebagai kawasan berkonflik.

Namun, pada 23 Februari 2013, petani kembali menemukan karyawan TPL memasuki kawasan tersebut secara beramai-ramai dan melakukan penebangan. Meski para karyawan menanami kembali pohon yang mereka tebang, tapi warga tetap tidak terima. Mereka lantas mengajukan keberatan secara langsung ke TPL, didampingi sejumlah aktivis.

Keesokan harinya, petani yang berjaga juga kembali menemukan karyawan TPL melakukan penebangan, sehingga bentrok nyaris pecah.

Bentrok baru terjadi pada Senin kemarin. Para petani datang dengan jumlah lebih banyak. Sekira 250 orang mendatangi wilayah tombak di Dolok Ginjang untuk mengusir para pekerja TPL.

Direktur Kelompok Studi dan Pengembangan Prakarsa Masyarakat (KSPPM) Sumut, Suryati Simanjuntak, yang mengadvokasi kelompok tani ekaliptus, menyesalkan sikap TPL yang seolah tidak konsisten dengan kesepakatan yang telah dibuat. TPL dinilai telah mengangkangi para pengambil kebijakan di Humbahas, yang ikut serta dalam kesepakatan tersebut.

Dia juga mengaku heran dengan sikap polisi yang cenderung berpihak pada perusahaan pengolahan bubur kertas itu. Saat protes berlangsung, petani justru harus berhadapan dengan polisi.

“Kami sesalkan ini, sudah ada kesepakatan antara petani dan TPL, bersama dengan pengambil kebijakan di wilayah ini. Tapi sepertinya TPL diperbolehkan mengangkanginya. Buktinya petani yang memastikan kesepakatan itu tidak dilanggar, justru ditangkap oleh polisi,” jelasnya dalam keterangan pers yang diterima Okezone di Medan, Selasa (26/2/2013).

Hingga saat ini ke 14 petani yang ditangkap masih di tahan di Mapolresta Humbahas. Sementara itu Kapolres Humbahas AKBP Heri Sulismono yang coba dikonfirmasi Okezone belum berhasil dihubungi.

Berikut nama-nama petani yang tengah ditahan:

Desa Sipituhuta:

  1. Hanup Marbun (37),
  2. Leo Marbun (40),
  3. Onri Marbun (35),
  4. Jusman Sinambela (50),
  5. Jaman Lumbanbatu (40),
  6. Roy Marbun (35),
  7. Fernando Lumban Gaol (30), 
  8. Filter Lumban Batu (45) dan
  9. Daud Marbun (35).

Desa Pandumaan:

  1. Elister Lumban Gaol (45),
  2. Janser Lumban gaol (35),
  3. Poster Pasaribu (32),
  4. Madilaham Lumban Gaol (32),
  5. Tumpal Pandiangan (40)

Sumber : news.okezone.com

Tinggalkan Balasan:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s