Gunung Sinabung Meletus, Ribuan Warga Mengungsi.

Senin, 16 September, 2013
MELETUS- Gunung Sinabung meletus. Hingga Minggu (15/9) sore, gunungapi mengeluarkan debu vulkanik. Sedikitnya, 3.710 jiwa masyarakat sekitar kawasan Gunung Sinabung, telah mengungsi. (Foto: Nanang)

MELETUS- Gunung Sinabung meletus. Hingga Minggu (15/9) sore, gunungapi mengeluarkan debu vulkanik. Sedikitnya, 3.710 jiwa masyarakat sekitar kawasan Gunung Sinabung, telah mengungsi. (Foto: Nanang)

KARO – Warga Kabupaten Karo, Minggu (15/9) dini hari, dikejutkan letusan Gunung Sinabung. Gunung merapi itu erupsi dan memuntahkan abu vulkanik. Letusan mendadak tersebut membuat ribuan warga dievakuasi.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat, Gunung Sinabung meletus pukul 02.51 WIB. Sepuluh menit kemudian, status gunung setinggi 2.460 meter tersebut langsung dinaikkan dari level waspada ke siaga.

“Warga yang tinggal di radius tiga kilometer dari kawah diungsikan,” terang Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho. Berdasarkan penetapan status siaga, tidak boleh ada aktivitas dalam radius tersebut.

Masyarakat lima desa di dua kecamatan di Kabupaten Karo langsung mengungsi begitu mendengar suara letusan. Mereka mengungsi ke sejumlah gedung dan jambur (aula tempat berkumpulnya warga) di Kecamatan Kabanjahe dan Brastagi, tidak jauh dari kantor Bupati Karo.

Sebaran pengungsi ada di:

  • jambur Taras Brastagi (650 jiwa),
  • jambur Sempakata (750),
  • jambur klasis GBKP Kabanjahe (590),
  • jambur Desa Payung (320), dan
  • kompleks GBKP Kabanjahe (1.400).

Belum ada laporan korban jiwa sebagai dampak dari erupsi tersebut.

Beberapa dapur umum telah dibangun di lokasi pengungsian. Sejumlah logistik dan peralatan juga telah didatangkan dari Medan untuk mencukupi kebutuhan pengungsi. TNI membantu evakuasi warga, sedangkan Polri mengawasi perkampungan yang ditinggal penghuninya untuk mencegah pencurian.

Gunung Sinabung sudah cukup lama tidak aktif. Setelah letusan dahsyat pada tahun 1.600, gunung tersebut tidak pernah lagi meletus hingga 2010. Pada 27 Agustus 2010, Sinabung menyemburkan asap dan abu vulkanis. Statusnya kala itu langsung dinaikkan menjadi awas. Kemudian, pada 7 September 2010, gunung itu kembali meletus. Setelahnya, tidak ada lagi aktivitas vulkanis hingga akhirnya meletus kemarin.

Kepala Pusat Vulkanolgi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Hendrasto menjelaskan, sepanjang kemarin terjadi 31 gempa vulkanik di Sinabung. Tim darurat telah diberangkatkan ke lokasi pada pukul 17.00 WIB kemarin. Jika dibandingkan dengan letusan yang terjadi pada 2010, karateristiknya hampir sama. Yakni, terlihat api diam di atas gunung dan letusan yang berupa abu. Dia menduga larva D telah mencapai puncak gunung. “Segala kemungkinan bisa saja terjadi. Tidak dapat langsung dipastikan saat ini untuk situasi kedepan,” tandasnya.

PVMBG mencatat saat ini ada lima gunung di Indonesia yang berstatus siaga. Pertama, Gunung Ibu yang terletak di Halmahera, Maluku Utara. Gunung tersebut hingga hari ini masih mengeluarkan api dari puncak.

Kedua, Gunung Karangetang yang terletak di Pulau Siau, Sulawesi Utara. Sejak 3 September lalu, larva dari gunung tersebut masih mengalir hingga 2 km dari lokasi.

Ketiga, Gunung Lokon di Tomohon, Sumatera Utara. Pekan lalu Lokon menyemburkan abu hingga ketinggian 2500 meter.

Keempat adalah Gunung Rokatenda yang pada Agustus lalu kembali meletus dan mengakibatkan hampir seluruh warga Pulau Palue, NTT, mengungsi. Nah, yang kelima adalah Gunung Sinabung.

Meletusnya Sinabung langsung direspons Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dengan menurunkan tim. Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (Dirjen P2PL) Tjandra Yoga Aditama mengatakan, Dinas Kesehatan Kabupaten karo sudah mendirikan posko kesehatan. Tim dari Medan juga telah menuju ke lokasi. “Kalau diperlukan, tim KKP (Kantor Kesehatan Pelabuhan) Medan siap membantu” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pekerjaan Umum (PU) Danis H Sumadilaga mengatakan siap menerjunkan tim untuk membantu warga. Namun, pihaknya masih menunggu kabar dari petugas di lapangan. “Secepatnya kami akan mendata kebutuhan apa yang diperlukan warga di sana dan akan kami umumkan,” terangnya.

Penanggulangan Bencana Belum Terbentuk di Karo
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat hingga Minggu (15/9) sore, sedikitnya 3.710 jiwa masyarakat dari sekitar kawasan Gunung Sinabung, telah mengungsi dan berada di sejumlah titik penampungan. Di antaranya di Jambur Taras Brastagi (650 jiwa), Jambur Sempakata (750 jiwa), Jambur Klasis GBKP Kabanjahe (590 jiwa), Jambur Desa Payung (320 jiwa) dan di kompleks GBKP Kabanjahe (1.400 jiwa).

“Semua pengungsi dalam kondisi aman. Belum ada laporan mengenai korban jiwa dan kerusakan dari dampak erupsi tersebut. Tim reaksi cepat BNPB dan BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Utara juga telah berangkat menuju lokasi sesaat setelah Gunung api Sinabung meletus pada Minggu dini hari sekitar pukul 02.51 WIB,” ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho di Jakarta.

Menurut Sutopo, pada letusan Gunung Sinabung yang kembali terjadi untuk kedua kalinya dalam tiga tahun terakhir ini, tidak terlalu tinggi. Namun letusan memuntahkan abu vulkanik dan beberapa batu kecil yang melanda desa-desa di sekitarnya.

Selain itu juga terlihat adanya api diam di puncak kawah pada pukul 02.45 WIB dan ada asap tebal hitam yang membawa abu keluar dari kawah Sinabung. Dari parameter kegunungapian yang dipantau Pos Gunungapi Sibanung, kata Sutopo, tercatat 255 gempa vulkanik dalam 16 kali gempa hembusan, 5 gempa tektonik lokal, 24 gempa tektonik jauh dan tremor 15 milimeter. “Karena itu masyarakat kita imbau selalu meningkatkan kesiapsiagaan dan mengikuti arahan petugas.

Karakteristik erupsi Gunung Sinabung belum banyak dikenali secara lengkap karena sebelum erupsi tahun 2010, gunung tersebut tidak menunjukkan aktivitas dalam waktu hampir seratus tahun,” ujarnya.

Imbauan dikemukakan karena terkait meningkatnya aktivitas Gunungapi Sinabung, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, juga telah meningkatkan status Gunung Sinabung dari Waspada (level II) menjadi Siaga (Level III) terhitung Minggu Pukul 03.00 WIB.

PVBMG merekomendasi agar tidak ada aktivitas masyarakat di radius 3 kilometer dari kawah. Untuk itu, masyarakat di Desa Sukameriah, berada di dalam radius 3 kilometer dan berada di bukaan kawah, harus diungsikan terlebih dahulu.

“Masyarakat di Desa Sukameriah, Kecamatan Payung dan Desa Kutarakyat, Kutagugung, Simacem dan Bekerah di Kecamatan Namanteran, telah melakukan evakuasi mandiri ketika mereka mendengar gemuruh dan letusan Gunung Sinabung. Mereka mengungsi ke Kabanjahe. Pengungsi ditempatkan di gedung dan jambur-jambur sekitar Kantor Bupati Karo,” ujarnya.

Sutopo mengakui, dalam penanganan bencana di Kabupaten Karo, pihaknya mengalami kesulitan. Salahsatunya karena BPBD Kabupaten Karo sampai saat ini belum dibentuk oleh Pemerintah Kabupaten Karo. Sehingga penanganan bencana ditangani oleh Dinas Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Kesbanglinmas) Kabupaten Karo.

“Kondisi ini juga menghambat penanganan bencana, baik kesiapsiaagaan, pengurangan risiko bencana, tanggap darurat maupun pascabencana. Meski begitu, kita terus berupaya maksimal. Saat ini, Gunung Sinabung masih terekam tremor yang menerus, status gunung tetap siaga, monitoring aktivitas gunungapi terus diintensifkan,” katanya.

Sumber: Sumut

Tinggalkan Balasan:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s