Opera Batak Serasi.

Oleh Redaksi Koran Toba 29 September 2013 

RAMSES SIMANJUNTAK — Keberadaan opera pada tahun 1960-an sangat menarik minat masyarakat Batak Toba. Opera Batak atau sandiwara yang diiringi nyanyian dan musik Batak pada masa itu menjadi primadona hiburan masyarakat. Selain menghibur, juga mampu menguras emosi penonton, bahkan tak jarang penonton sampai menitikkan air mata karena larut dalam kesedihan, sesuai dengan alur cerita atau naskah yang dilakonkan. Sehingga tak heran kalau pada masa itu, setiap pementasan opera, penontonnya pasti membeludak.

Seiring berjalannya waktu, saat ini pementasan opera Batak semakin jarang terlihat, bahkan bisa dikatakan hampir lenyap. Padahal pementasan opera Batak merupakan salah satu wahana untuk melestarikan kesenian dan kebudayaan Batak Toba. Miris rasanya melihat cerita-cerita menarik dalam opera Batak seperti Siboru Tumbaga, Piso Sumalim, Sibursok Mangalandong, dan lain-lain akan lenyap pada generasi berikutnya. Sangat disayangkan memang, terlebih lagi pesan moral yang terkandung dalam cerita opera itu lebih kental, karena dilakonkan secara langsung di atas panggung.

Terkait hal itu, Koran Toba menjumpai salah satu bekas pemilik dan pemain opera, yaitu Mateus Sitanggang, di rumahnya di Sabasaba, Kecamatan Onanrunggu, Kabupaten Samosir. Menurut penuturannya, sebelum menjadi pemilik sebuah grup opera, dulunya dia adalah pemain di grup opera Batak Serindo. Karena suatu hal, bersama dua orang temannya, mereka membentuk grup opera sendiri yang dinamai Opera Serasi. Pada tahun 1968, dia menjadi pemilik resmi grup opera Batak Serasi.

Setelah menjadi pemilik, dia merasa memiliki tanggung jawab yang besar untuk menjaga kelangsungan hidup grup opera tersebut. Dengan membawa peralatan pentas seperti papan, tiang pentas, tali, dan kain untuk layar pentas, serta seng yang jumlahnya cukup banyak untuk memagar pentas, kru sekitar 60 orang, serta naskah cerita untuk ditunjukkan kepada pihak kantor camat sebagai salah satu isyarat manggung, mereka melakukan pementasan di berbagai daerah, antara lain :

  • Barus,
  • Panei Tonga,
  • Tanah Jawa,
  • Perdagangan,
  • Kisaran,
  • Tanah Karo,
  • Sidikalang,
  • Laguboti,
  • Tarutung,
  • Siborongborong,
  • Sibolga, dan bahkan sampai ke Padangsidimpuan.

Pada setiap pementasan, penonton selalu membeludak. Karcis dengan harga Rp30 bisa terjual sebanyak 15 blok atau 1.500 lembar. Dari seluruh daerah yang mereka jalani, Mateus Sitanggang mengakui, daerah yang cukup banyak penontonnya adalah Laguboti, Tarutung, dan Siborongborong.

Berbagai cerita opera mereka pentaskan. Jumlahnya sekitar 40-an. Sebagian besar ditulis oleh Tilhang Gultom, seorang seniman Batak yang sangat terkenal. Menurut Sitanggang, naskah cerita itu banyak diangkat berdasarkan kisah nyata, seperti Ardin dan Tiomina, Guru Saman, dan lain-lain.

Berbagai suka dan duka dialami oleh Mateus Sitanggang bersama grupnya. Keributan saat pementasan adalah hal yang paling sering terjadi. Biasanya keributan dipicu oleh ulah sekelompok pemuda atau preman kampung terhadap penonton lainnya. Lalu ada yang ngotot masuk tanpa karcis. Ada juga penolakan naskah cerita, dikarenakan naskah tersebut diangkat berdasarkan kisah nyata yang terjadi di daerah tersebut.

Grup opera Batak Serasi bisa berpentas selama 3–4 minggu di suatu daerah. Sudah tentu membutuhkan biaya yang cukup besar untuk menghidupi kru sebanyak 60 orang yang terdiri dari penjaga pintu masuk, penjual karcis, tukang tarik layar, tukang masak, pemain musik, pemeran lakon, dan petugas keamanan. Kebanyakan anggota datang sendiri karena ingin bergabung.

Sementara untuk honor anggota, kakek dengan 5 orang anak dan 14 cucu itu membagikannya kepada anggota dari hasil penjualan karcis, setelah dipotong biaya konsumsi, sewa rumah, dan biaya pajak hiburan, yang katanya cukup memberatkan, karena di beberapa daerah bisa mencapai 30% dari hasil penjualan karcis yang distempel oleh petugas kantor camat.

Perjalanan Opera Serasi berakhir pada tahun 1982. Penyebabnya adalah keributan pada saat pentas di Kolang. Saat itu seorang anggota Serasi ditusuk oleh seorang pemuda yang berasal dari daerah tersebut. Meski dia tidak sampai tewas, anggota Serasi tidak terima dengan penusukan itu, lalu menusuk pemuda tersebut hingga tewas. Seorang anggotanya dipenjara selama 1 tahun 4 bulan akibat penusukan itu. Setelah kejadian itu, laki-laki berusia 80 tahun itu memutuskan untuk membubarkan Opera Serasi dan menjual seluruh peralatan pentas kepada seorang marga Banjarnahor dari Bakara.

Ketika Koran Toba menanyakan naskah pementasan yang paling berkesan buat Sitanggang, laki-laki yang masih tampak sehat dan energik itu menyebutkan salah satu, “Ardin dan Tiomina”, yang diangkat berdasarkan kisah nyata dari Tarutung.

Opera Batak kisah cinta Ardin-Tiomina

Di suatu desa di Tarutung tersebutlah seorang wanita yang bernama Tiomina. Suatu waktu, Tiomina sedang berjalan-jalan menikmati indahnya alam. Sedang asyik-asyiknya, tiba-tiba beberapa orang pemuda datang menggoda dan mengganggunya. Tiomina berteriak minta tolong. Teriakan itu didengar oleh seorang pemuda yang bernama Ardin. Lalu Ardin menolong Tiomina, dan mengusir para pemuda tersebut. Dari pertemuan itu, timbullah benih cinta di hati Tiomina dan Ardin.

Percintaan mereka tidak berjalan mulus, karena mendapat tantangan dari orang tua Tiomina. Jauh sebelumnya, orang tua Tiomina sudah mempertunangkan Tiomina dengan anak namborunya yang berasal dari Medan. Itu artinya Tiomina harus kawin dengan anak namborunya. Meskipun Tiomina menolak, orang tuanya tetap memaksa. Dengan berat hati, akhirnya Tiomina menuruti kemauan orang tuanya.

Beberapa hari sebelum hari pernikahan, Tiomina pergi menjumpai Ardin sambil membawa sebuah kain sarung panjang. Dengan tersedu-sedu, Tiomina memberi tahu kalau dia akan menikah dengan anak namborunya. Sambil menangis, Tiomina memberikan ujung kain sarung panjang kepada Ardin, sementara ujung yang satunya dipegangnya. Perlahan, dia melepaskan kain sarung tersebut dan mengucapkan selamat tinggal kepada Ardin. Karena diliputi kesedihan yang dalam, Ardin tidak mampu mengucap sepatah kata pun.

Meski sudah menikah dengan anak namborunya, Tiomina tidak bisa melupakan Ardin. Terkadang pada saat tidur, Tiomina sering mengigau dan menyebut-nyebut nama Ardin. Hal itu diketahui oleh suaminya dan akhirnya marah besar pada Tiomina, sehingga dia dipukuli dan diusir suaminya. Akhirnya, Tiomina pulang ke rumah orang tuanya. Suaminya tidak mau menjemput Tiomina. Karena merasa sakit akibat dipukuli suaminya, tidak berapa lama Tiomina meninggal dunia di rumah orang tuanya.

Setelah dikuburkan, Ardin datang ke pusaranya sambil membawa kain sarung panjang pemberian Tiomina dulu. Ardin meletakkan kain sarung panjang di pusara itu sambil menangis dalam waktu yang cukup lama. Entah apa yang telah merasuki pikirannya, Ardin mengambil kain sarung panjang dari atas pusara, kemudian bunuh diri tepat di dekat pusara Tiomina. [www.korantoba.com]

 Sumber: KoranToba.com

Tinggalkan Balasan:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s